![]() |
| Baliho ukuran kecil bergambar calon tersebar di seluruh pohon yang ada di pinggir jalan |
Lembaga swadaya masyarakat dan aktivis lingkungan di Kolaka, Sulawesi
Tenggara memprotes banyaknya baliho bakal calon bupati dan wakil bupati
ukuran mini yang ditempel di seluruh pohon pelindung sepanjang jalan
utama Kota Kolaka. Sebab, tindakan itu bisa merusak pohon dan
pemandangan.
Ketua Umum organisasi Mahasiwa Pecinta Alam (Mapala)
Universitas 19 November, Kolaka, Siswanto mengatakan, apapun alasannya
dan siapapun orangnya, tidak boleh memasang apalagi memaku baliho di
pohon pelindung.
"Sekali lagi saya tegaskan tidak ada alasan dan
tidak boleh ada baliho yang terpaku di pohon. Itu merusak lingkungan dan
pohon itu sendiri. Kami harap pengertian dari para calon bupati atau
pengusaha, bahkan dinas terkait agar memperhatikan pohon-pohon
tersebut," ungkapnya, Jumat (15/03/2013).
Harapan yang sama juga
disampaikan Sudirman, aktivis lingkungan dari Go Green Kolaka. Dia
mendesak pemda segera memberikan aturan jelas terhadap para pemasang
baliho tersebut. Sebab, memasang baliho dengan dipaku di pohon akan
merusak pohon iyu sendiri.
"Yang paling utama adalah merusak
pertumbuhan pohon itu sendiri. Dampaknya pasti masalah pemanasan global.
Yang kedua terlihat kotor ini lingkungan kalau baliho itu terpasang
seenaknya. Apalagi jumlahnya ribuan. Kami tegaskan kita sama-sama
lestarikan pohon lah," ungkap Sudirman.
Di tempat terpisah, Kepala
Badan Lingkungan Hidup Kolaka, Anwar Sanusi menyatakan, pihaknya masih
dalam tahap pendekatan persuasif pada mereka yang memasang baliho di
pohon.
"Kami tetap bertindak dalam menangani masalah baliho yang
terpaku di pohon. Memang kita prioritaskan, tapi ya itu tadi, masih
tahap pendekatan dulu. Nanti akan ada sosialisasi agar tidak memasang
baliho di pohon-pohon pelindung jalan. Yang jelasnya kami tidak akan
tinggal diam," tegasnya.

