Link Banner
Headlines News :
Home » » Ribuan Pelajar di Bojonegoro Tak Naik Kelas

Ribuan Pelajar di Bojonegoro Tak Naik Kelas

Logo Tut Wuri Handayani
Wartanusa-News, Pantura
Ribuan pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Bojonegoro mengulang atau tidak naik kelas. Jumlah siswa yang tidak naik kelas itu kebanyakan terjadi di daerah pelosok.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Husnul Khuluq mengatakan, jumlah siswa yang tidak lulus kebanyakan pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD), yakni sebesar 1.491 siswa dan siswa MI sebanyak 160. Sedangkan untuk tingkat SMP, hanya ada 49 siswa dan MTs sebanyak 18 siswa. "Sedangkan siswa tingkat SMA hanya ada 27 siswa, yakni 3 siswa SMA, 13 siswa SMK, dan 11 siswa MA," ujar Husnu, Minggu (10/03/2013).

Khuluq mengatakan sebanyak 1.745 siswa yang tidak naik kelas tersebut kebanyakan terjadi di daerah pelosok. Seperti Kecamatan Margomulyo, Ngraho, Bubulan, Sekar dan Ngambon. Hal ini disebabkan, karena tingkat kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak masih kurang. "Bukan karena masalah ekonomi, tetapi masih kuranganya kepedulian orang tuanya terhadap pendidikan," ungkapnya.

Sehingga, lanjut mantan Sekda Gresik itu, hal tersebut membuat siswa enggan untuk belajar dan peduli terhadap pendidikan. Kebanyakan siswa diminta membantu orang tuanya bekerja. Tentu hal tersebut menggangu pendidikan anak. Terpaksa siswa yang belum memenuhi standart nilai yang harus dicapai, harus mengulang lagi tahun depan.

"Misalanya sampai kelas 3 belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Maka tidak boleh dinaikan, demi kebaikan anak itu sendiri," lanjutnya.

Ketika disinggung, masalah kompetensi tenaga pendidik yang masih rendah. Khuluq membatah hal itu, selama ini, ia menilai guru sudah mengajar sesuai prosedur. Hanya saja, tingkat kecukupan guru PNS didaerah pelosok masih rendah. Artinya didaerah pelosok masih kekurangan guru PNS."Baru terpenuhi 30 persen saja. Sedangkan di Kota sudah 70 persen," pungkasnya.

Selain itu, rata-rata setiap tahunnya guru SD yang pensiun mencapai 250 orang. Sehingga hal ini membuat banyak sekolah yang kekurangan guru. Sedangkan pemerintah melarang mengangkat PNS sejak dua tahun lalu. "Namun sekolah yang kekurangan guru, sudah terbantu dengan adanya GTT (guru tidak tetap)," pungkasnya.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Wartanusa-News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger