Wartanusa-News, Pantura
Pers Mahasiswa (Persma) usai reformasi mulai agak mengendur. Padahal Persma saat masa Orde baru sempat menjadi media alternatif bagi Masyarakat.
Hal ini yang diungkapkan Anas Abdul Ghofur, salah seorang redaktur koran Lokal Bojonegoro dalam acara Workshop Literasi Media dengan tema ‘Pers Kampus dan Pencerdasan Publik’, Minggu (10/03/2013).
Acara yang melibatkan seluruh perwakilan Mahasiswa dari Perguruan Tinggi di Kabupaten Bojonegoro itu digelar sebagai upaya untuk megembalikan nyawa Pers Kampus. Sebab, sesuai dengan perkembangannya Media mulai dikuasai oleh pasar bisnis. “Pers Mahasiswa ini yang masih independent, dan mampu mengambil ceruk sikap kritis yang tidak bisa dilakukan media umum,” ujarnya.
Pria yang juga pernah menjadi salah satu pengelola dalam majalah Kampus Balairung, Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengungkapkan, yang paling mendasari agar persma tetap bertahan adalah nafas dan stamina teman-teman Mahasiswa yang mampu tetap berdenyut serta tetap menjaga independensi. “Tinggal sekarang sejauh mana nafas dan stamina Mahasiswa mampu berdenyut,” tegasnya.
Setelah dengan dilakukannya workshop literasi media ini, salah satu penggagas Komunitas Sindikat Baca di Kabupaten Bojonegoro itu berharap, Pers Mahasiswa di Bojonegoro agar lebih berkembang, apalagi saat ini yang sudah memiliki Persma di Perguruan Tinggi di Bojonegoro masih minim. “Saya berharap setelah ini akan lebih banyak Persma,” harapnya.
Dengan banyaknya Persma, Masyarakat umum agar mengerti Bojonegoro tidak hanya kaya dengan sumber minyaknya, namun juga hidup kebudayaan, seni dan lingkungan pendidikan yang lebih maju. “Dengan banyaknya Persma itu diharapkan atmosfir budaya di Bojonegoro lebih hidup, bukan hanya dikenal dengan kaya minyak,” pungkasnya.
Selain itu, Dwidjo U Maksum, nara sumber lain dalam kegiatan yang bertema Pers Kampus dan Pencerdasan Publik, yang digelar di Griya MCM, Jalan Pemuda Bojonegoro, mengungkapkan, dalam pendirian Persma menurutnya tidak sulit apalagi dengan adanya perkembangan media (newmedia,red) maka Mahasiswa akan lebih dipermudah.
“Jika masih tidak mampu untuk mencetak surat kabar, maka bisa menggunakan web, atau blog yang lebih mudah untuk di akses seluruh dunia. Jadi finansial tidak menjadi alasan,” tegasnya.
Sekedar diketahui, acara yang digelar oleh Forum Jurnalis Mahasiswa Bojonegoro yang bekerja sama dengan operator Minyak dan Gas Bumi (Migas) Mobil Cepu Limited (MCL) diikuti sekitar 38 Mahasiswa dari perwakilan perguruan tinggi di Bojonegoro.
Ketua Panitia pelaksana, Dedi Mahdi Assalafi mengungkapkan, acara ini merupakan tindak lanjut adanya kegiatan pelatihan jurnalistik bagi Mahasiswa dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro beberapa waktu lalu.“Workshop Literasi Media ini adalah bentuk follow up temen-temen mahasiswa yang sudah mengikuti pelatihan Jurnalistik beberapa waktu lalu,” ungkapnya.
Pers Mahasiswa (Persma) usai reformasi mulai agak mengendur. Padahal Persma saat masa Orde baru sempat menjadi media alternatif bagi Masyarakat.
Hal ini yang diungkapkan Anas Abdul Ghofur, salah seorang redaktur koran Lokal Bojonegoro dalam acara Workshop Literasi Media dengan tema ‘Pers Kampus dan Pencerdasan Publik’, Minggu (10/03/2013).
Acara yang melibatkan seluruh perwakilan Mahasiswa dari Perguruan Tinggi di Kabupaten Bojonegoro itu digelar sebagai upaya untuk megembalikan nyawa Pers Kampus. Sebab, sesuai dengan perkembangannya Media mulai dikuasai oleh pasar bisnis. “Pers Mahasiswa ini yang masih independent, dan mampu mengambil ceruk sikap kritis yang tidak bisa dilakukan media umum,” ujarnya.
Pria yang juga pernah menjadi salah satu pengelola dalam majalah Kampus Balairung, Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengungkapkan, yang paling mendasari agar persma tetap bertahan adalah nafas dan stamina teman-teman Mahasiswa yang mampu tetap berdenyut serta tetap menjaga independensi. “Tinggal sekarang sejauh mana nafas dan stamina Mahasiswa mampu berdenyut,” tegasnya.
Setelah dengan dilakukannya workshop literasi media ini, salah satu penggagas Komunitas Sindikat Baca di Kabupaten Bojonegoro itu berharap, Pers Mahasiswa di Bojonegoro agar lebih berkembang, apalagi saat ini yang sudah memiliki Persma di Perguruan Tinggi di Bojonegoro masih minim. “Saya berharap setelah ini akan lebih banyak Persma,” harapnya.
Dengan banyaknya Persma, Masyarakat umum agar mengerti Bojonegoro tidak hanya kaya dengan sumber minyaknya, namun juga hidup kebudayaan, seni dan lingkungan pendidikan yang lebih maju. “Dengan banyaknya Persma itu diharapkan atmosfir budaya di Bojonegoro lebih hidup, bukan hanya dikenal dengan kaya minyak,” pungkasnya.
Selain itu, Dwidjo U Maksum, nara sumber lain dalam kegiatan yang bertema Pers Kampus dan Pencerdasan Publik, yang digelar di Griya MCM, Jalan Pemuda Bojonegoro, mengungkapkan, dalam pendirian Persma menurutnya tidak sulit apalagi dengan adanya perkembangan media (newmedia,red) maka Mahasiswa akan lebih dipermudah.
“Jika masih tidak mampu untuk mencetak surat kabar, maka bisa menggunakan web, atau blog yang lebih mudah untuk di akses seluruh dunia. Jadi finansial tidak menjadi alasan,” tegasnya.
Sekedar diketahui, acara yang digelar oleh Forum Jurnalis Mahasiswa Bojonegoro yang bekerja sama dengan operator Minyak dan Gas Bumi (Migas) Mobil Cepu Limited (MCL) diikuti sekitar 38 Mahasiswa dari perwakilan perguruan tinggi di Bojonegoro.
Ketua Panitia pelaksana, Dedi Mahdi Assalafi mengungkapkan, acara ini merupakan tindak lanjut adanya kegiatan pelatihan jurnalistik bagi Mahasiswa dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro beberapa waktu lalu.“Workshop Literasi Media ini adalah bentuk follow up temen-temen mahasiswa yang sudah mengikuti pelatihan Jurnalistik beberapa waktu lalu,” ungkapnya.
