Berita Terkini, Wartanusa-news Surabaya
Bagaimana sampai gadis belia berusia 15 tahun yang masih duduk di bangku
SMP terjerumus menjadi mucikari? Kepala Dinas Pendidikan Jatim Harun
menilai, pihak sekolah kurang jeli dalam pengawasan anak-anak didiknya.
"Kenapa sampai terjadi? Karena pengawasan sekolah kurang," kata Harun saat dihubungi detikcom, Selasa (11/6/2013).
Harun
menjelaskan, prinsip dasar sekolah yakni adanya kepala sekolah dan
guru. Ini menunjukkan seharusnya ada manajemen yang menangani bimbingan
konseling terhadap siswa.
Bukan hanya dari sisi keilmuan, lanjut
Harun. Sekolah sudah sewajarnya mengajarkan etika, moral dan tanggung
jawab kepada anak-anak didik.
"Ada sekitar total 8 juta siswa
setingkat SMP di Jatim. Program bimbingan konseling sudah dilakukan,
tapi mungkin ada missed," tutur Harun.
Untuk mencari solusi dari
kasus ini, pihak Dinas Pendidikan mengaku akan ikut unjuk gigi
menanganinya. Harun menuturkan, lebih akan menangani tersangka NA dengan
konteks edukasi melalui pihak sekolah.
"Selain menyerahkan
proses hukum kepada yang berwajib (polisi), kami juga akan menangani
dalam konteks eduksi. Kami akan membina siswa tersebut supaya tidak
mengulangi perbuatannya itu lagi," jelas Harun.
"Kami juga akan mengajarkan bahwa perbuatan siswa itu (tersangka) salah. Intinya kami tidak akan lepas tangan," pungkas Harun.
Diberitakan
sebelumnya, polisi menangkap seorang mucikari berusia 15 tahun yang
masih duduk di bangku SMP. Polisi juga mengamankan 3 gadis di bawah umur
yang menjadi anak buah tersangka. Namun, setelah dilakukan
pengembangan, korban mucikari SMP ini sebanyak 11 gadis belia.
Home »
Pendidikan
» Siswi SMP Jadi Mucikari, Dinas Pendidikan Anggap Sekolah Lalai
Siswi SMP Jadi Mucikari, Dinas Pendidikan Anggap Sekolah Lalai
Share
Labels:
Pendidikan

