Wartanusa-news Bojonegoro,
Momen Hari Kebebasan Pers yang dirayakan setiap tanggal 3 Mei tahun ini lebih meriah. Bahkan dalam momen tersebut, jurnalis muda dan pemula mendapat tantangan untuk menulis berita yang lebih mendalam.
"Momentum Hari Kebebasan Pers ini harus menjadi awal perkembangan dalam penulisan berita jurnalis muda dan pemula," ujar Anas Abdul Gofur, Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, Jumat (03/05/2013).
Pria yang juga menjadi redaktur media cetak lokal Bojonegoro itu mengungkapkan, hakekat pembebasan merupakan tidak ada pengekangan terhadap insan pers. Sebab selama ini, kasus kekerasan terhadap jurnalis masih banyak terjadi. "Selain itu, kebebasan pers juga merupakan alur bagi masyarakat untuk berkarya, bukan hanya milik jurnalis," lanjutnya.
Sementara, Ketua AJI Bojonegoro, Sujatmiko mengungkapkan, kebebasan pers yang dirayakan tiap tahun sekali ini telah dibayar mahal oleh para insan pers sebelumnya yang pada akhirnya telah memberikan warna, dan sejarah. "Para insan pers ini hingga menjadi korban kekerasan hanya karena untuk menginginkan kebebasan," ungkapnya.
Sujatmiko menambahkan, hingga kini banyak kasus kekerasan yang menimpa jurnalis dan masih banyak proses hukum yang belum tuntas. "Saya berharap ini menjadi momentum berekspresi untuk hidup yang lebih enak, dan terus berkarya pada satu disiplin ilmunya," tegasnya.
Sementara, dalam perayaan hari kebebasan pers yang digelar dengan bentuk Mimbar Terbuka itu salah satunya juga dihadiri oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri Bojonegoro, Nusirwan Sahrul. Nusirwan mengatakan, jika insan pers di Bojonegoro sangat memberikan kesan tersendiri. "Bagi saya pribadi insan pers di Bojonegoro memberikan apresiasi yang luar biasa," jelasnya.
Ia mengungkapkan, jika profesi wartawan merupakan suatu profesi yang sangat beresiko, sehingga banyak sekali mendapat ancaman, maupun tindak kekerasan. "Sebagai kontrol sosial jurnalis di bojonegoro sangat menjunjung tinggi profesionalisme," lanjutnya.
Nusirwan berharap wartawan kedepan bisa meningkatkan profesionalisme, eksistensinya agar lebih mampu menyampaikan informasi yang seimbang kepada Masyarakat. Apalagi saat ini insan pers sudah mendapatkan kebebasan sepenuhnya. "Kebebasan ini bukan bebas sesuka hati tapi juga bertanggungjawab atas pemberitaannya," pungkasnya.
Dalam acara mimbar terbuka hari kebebasan pers itu, dimeriahkan oleh berbagai pementasan seperti geguritan, puisi, maupun musik akustik yang dibawakan dari kalangan Masyarakat, Seniman, maupun Budayawan. Meskipun pengemasan acara hanya dengan konsep sederhana, namun acara berlangsung ganyeng dengan suguhan pala pendhem.
Momen Hari Kebebasan Pers yang dirayakan setiap tanggal 3 Mei tahun ini lebih meriah. Bahkan dalam momen tersebut, jurnalis muda dan pemula mendapat tantangan untuk menulis berita yang lebih mendalam.
"Momentum Hari Kebebasan Pers ini harus menjadi awal perkembangan dalam penulisan berita jurnalis muda dan pemula," ujar Anas Abdul Gofur, Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, Jumat (03/05/2013).
Pria yang juga menjadi redaktur media cetak lokal Bojonegoro itu mengungkapkan, hakekat pembebasan merupakan tidak ada pengekangan terhadap insan pers. Sebab selama ini, kasus kekerasan terhadap jurnalis masih banyak terjadi. "Selain itu, kebebasan pers juga merupakan alur bagi masyarakat untuk berkarya, bukan hanya milik jurnalis," lanjutnya.
Sementara, Ketua AJI Bojonegoro, Sujatmiko mengungkapkan, kebebasan pers yang dirayakan tiap tahun sekali ini telah dibayar mahal oleh para insan pers sebelumnya yang pada akhirnya telah memberikan warna, dan sejarah. "Para insan pers ini hingga menjadi korban kekerasan hanya karena untuk menginginkan kebebasan," ungkapnya.
Sujatmiko menambahkan, hingga kini banyak kasus kekerasan yang menimpa jurnalis dan masih banyak proses hukum yang belum tuntas. "Saya berharap ini menjadi momentum berekspresi untuk hidup yang lebih enak, dan terus berkarya pada satu disiplin ilmunya," tegasnya.
Sementara, dalam perayaan hari kebebasan pers yang digelar dengan bentuk Mimbar Terbuka itu salah satunya juga dihadiri oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri Bojonegoro, Nusirwan Sahrul. Nusirwan mengatakan, jika insan pers di Bojonegoro sangat memberikan kesan tersendiri. "Bagi saya pribadi insan pers di Bojonegoro memberikan apresiasi yang luar biasa," jelasnya.
Ia mengungkapkan, jika profesi wartawan merupakan suatu profesi yang sangat beresiko, sehingga banyak sekali mendapat ancaman, maupun tindak kekerasan. "Sebagai kontrol sosial jurnalis di bojonegoro sangat menjunjung tinggi profesionalisme," lanjutnya.
Nusirwan berharap wartawan kedepan bisa meningkatkan profesionalisme, eksistensinya agar lebih mampu menyampaikan informasi yang seimbang kepada Masyarakat. Apalagi saat ini insan pers sudah mendapatkan kebebasan sepenuhnya. "Kebebasan ini bukan bebas sesuka hati tapi juga bertanggungjawab atas pemberitaannya," pungkasnya.
Dalam acara mimbar terbuka hari kebebasan pers itu, dimeriahkan oleh berbagai pementasan seperti geguritan, puisi, maupun musik akustik yang dibawakan dari kalangan Masyarakat, Seniman, maupun Budayawan. Meskipun pengemasan acara hanya dengan konsep sederhana, namun acara berlangsung ganyeng dengan suguhan pala pendhem.

