Link Banner
Headlines News :
Home » » Calon Bupati Bayangan Dilarang Kampanye

Calon Bupati Bayangan Dilarang Kampanye

Wartanusa-news Bondowoso,
Politisi Partai Kebangkitan Nasional Ulama Mustawiyanto diminta mencalonkan diri menjadi bupati tanpa bertujuan menang dalam pemilihan umum kepala daerah Bondowoso, Jawa Timur. Ia berpasangan dengan calon wakil bupati Abdul Manan.

"Kendati tidak ada komitmen tertulis antara saya dengan Aswaja (Amin Said Husni - Salwa Arifin), saya memang diminta untuk mencalonkan diri tanpa sebuah pretensi menang. Karena itu, saya dilarang kampanye, dilarang memasang atribut yang berbau kampanye, dan saya konsisten dengan itu. Tidak ada satu rupiah pun, baik berupa atribut kampanye dan lain sebagainya, dari dana pribadi saya," kata Mustawiyanto.

Mustawiyanto dan Manan sengaja dimunculkan menjadi pasangan calon kepala daerah oleh calon bupati petahana atau incumbent Amin Said Husni, karena tak ada kandidat bupati dan wakil bupati lain yang diperkirakan bakal punya peluang mendaftarkan diri dalam pemilihan bupati Bondowoso. Suroso dan Darmaji yang maju dari jalur independen gagal memenuhi syarat kuota 4 persen suara pemilih yang ditunjukkan dengan bukti fotokopi kartu tanda penduduk.

Sementara itu, Haris Sonhaji dan Harimas terganjal, karena empat dari 13 partai yang hendak mencalonkan mereka mencabut dukungan sebelum masa pendaftaran. Ini mengakibatkan suara dukungan partai untuk mereka tak mencapai syarat 15 persen sebagaimana ditetapkan undang-undang.

Satu-satunya kandidat bupati dan wakil bupati yang memenuhi syarat adalah Amin Said Husni dan KH Salwa Arifin, yang dijuluki Aswaja (Amin Said - Salwa Jaya). Mereka didukung 20 partai politik. Amin saat ini menjabat bupati Bondowoso, dan Salwa adalah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama di kota itu.

Undang-undang mengharuskan proses pemilihan kepala daerah ditunda dan dibuka kembali pendaftaran, jika hanya ada satu pasang peserta yang ditetapkan sebagai kandidat. Minimal harus ada dua pasangan yang ditetapkan menjadi peserta untuk memenuhi ketentuan aturan tersebut. Dengan kata lain, pemilukada Bondowoso dalam bahaya, jika hanya ada satu pasangan kandidat.

Mustawiyanto sendiri tidak melihat adanya manfaat jika berkampanye. "Saya berpikir, untuk apa saya kampanye dan pasang atribut. Toh sejak awal saya tidak ada itikad untuk mencalonkan diri. Saya mengukur keadaan saya, termasuk Pak Manan. Tak mungkin kami berkampanye. Dari mana biayanya? Kalau pun rumah saya dijual, tak cukup. Saya tidak punya kendaraan roda empat. Kendaraan saya roda dua," katanya.

Bahkan, Mustawiyanto dan Manan tidak punya tim kampanye yang dibentuk atas inisiatif sendiri, layaknya dilakukan kandidat dalam kontestasi politik. Tim kampanye mereka dibentuk sendiri oleh PKNU, dan tidak pernah ada kontak di antara kedua belah pihak secara intensif. Mustawiyanto baru mengontak tim suksesnya, jika ada acara seremonial yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Bondowoso. Salah satunya membuatkan visi, misi, dan program untuk dipaparkan dalam sidang paripurna di DPRD Bondowoso.

"Soal strategi pemenangan dan kampanye, tidak ada kontak. Tidak ada sebuah diskusi atau rapat serius mengenai itu. Saya tidak melakukan kampanye sama sekali. Orang-orang yang datang ke rumah saya hanya silaturahmi," kata Mustawiyanto. Menjelang Hari-H pemungutan suara, ia menggelar khotmil quran atau pembacaan kitab suci Al quran hingga selesai oleh para penghafal ayat suci.

Ketidaklaziman ini sudah disinggung Mustawiyanto saat membacakan visi dan misi di hadapan DPRD Bondowoso, 19 April 2013. "Jauh sebelum ini, tak pernah terbayangkan hadir, sekalipun dalam mimpi kami, untuk menjadi calon bupati dan wakil bupati. Tetapi realitas politik 'supra rasional' menghendaki kami untuk naik gelanggang menjadi salah satu pasangan calon yang akan dipertandingkan di pentas politik pemilukada," katanya dalam acara itu.

"Sebuah fakta tentang ketidaklaziman, tetapi ketidaklaziman di tengah realitas yang tidak lazim, menjadi kelaziman tersendiri. Oleh desakan sebuah ego tertentu, arena politik dalam pemilukada menjadi kehilangan auranya, karena arena politik pemilukada berdiri di atas realitas dalam realitas (hyperreality)."

Mustawiyanto menyebut, pemilukada 6 Mei 2013 bukan keniscayaan bagi kemungkinan menang-kalah. "Peperangan sejatinya adalah melawan diri (persona) masing-masing, dari generasi yang lahir dari rahim yang sama. Bagaimana pun, Saudara Drs. H. Amin Said Husni adalah kakak senior bagi kekaderan kami, dan KH. Drs. Salwa Arifin adalah guru dan sekaligus kiai panutan kami," katanya.

Tepuk tangan bergema untuk Mustawiyanto dan Abdul Manan di ruang paripurna DPRD Bondowoso hari itu.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Wartanusa-News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger